Saturday, August 23, 2008

HITAM JINGGAKU

Aku menjadi orang yang paling kerdil di muka bumi ini
Menjadi onggokan sampah yang hanya pemulung yang akan menjadi tamuku
Begitu haramkah adaku pada singgasanamu yang terukir mahkota
Tak patutkah nafas ini mendengus hawa keindahanmu

Jemariku lekat oleh hitamnya daki
Kulit ariku menyengat oleh tumpahan riak peluh penuh busuk
Badan gontaikupun legam disirami terik tiap detik

Jangan musuhi aku jingga
Jangan picingkan matamu
Jangan tak menolehku
Jangan cibiri aku
Dan cukup ludahmu mandikanku

Jika boleh kau berkaca di jendela mataku, kau kan dapati secercah dian hidup terangi pemberhentianmu, rajamimu dengan hentakan semangat penolong, surgai jalanmu menuju arah telapakmu yang kadang kala tak bertuan, dan sering terpuruk tak berpijak.
Usai sudah siksamu dalami sengketa

jiwaku …………jiwamu ………………,
ragaku……….. ragamu………………..,
bathinku……..bathinmu…………….,
jasadku ……….jasadmu…………….

Mari ajak malaikat tersisa satu yang masih bersemayam menunggu ratapmu,menemanimu menatap jasadku masuk dan bersorak sorai menatap kuburan tak bertanah, menjengukku takkala bebatuan dan dedauanan semakin riuh temani peristirahatanku, serta yang mungkin akan memanjatkanku petuah agamis demi sebuah penebusan rasa bersalah, demi pembayaran hutang budi tak berkesudahan dan untuk melunasi akhir sebuah perguruan dosa yang sering kau alamatkan ke ujung hidungku.

Maaf ku telah bersamudra akari bibitmu yang semakin lekang oleh nestapa dan jangan pernah mencoba untuk jadikan orang lain manusia sedianya aku yang bisa kau telanjangi di sudut mimpi buruknya yang sangat tak bermoral

----Aku menunggu di sorga, jika kau sudahi itu dengan bunga……-----

1 comment:

Anonymous said...

ah..puisi memang bisa melampiaskan emosi jiwa ya?