menatap jakarta dimalam hari dari ketinggian lantai sebelas atau kurang lebih 33 meter dari permukaan tanah (kalo standart arsitektur perlantai adalah 3 meter) cukup menyenagkan.
gw melepaskan pandangan bebas ke Jalan utama Gatot Subroto yang sangat berwarna dengan lamapu-lampu jalananya, hidup dengan lalu lalang kendaraan roda 4 di jalan tol dan berbagai kendaraaan yang berseliweran.
Lampu terang terlihat dari merk sebuah Supermarket yang semapt sukses pada masanya di krtinggian yang hampir sama, turun ke bawahnya tepatnya disebalahnya lampu2 terang juga tampak jelas dari merk sebuah pom bensin ber color scheme kuning.
kegiatan lalu lalang manusia yang terlihat sangat kecil tampak jelas dari ujung pelupuk mata gw.
mata gw hanya hanya sedikit terbelalak ketika melihat pemandangan pekerjaan bangunan yang masih 'sambungan' dari perkantoran dimana gw berkantor, pekerjaan para bapak2 dan mas2 tersebut baru saja dimulai. apa memang kebanyakn pekerjaan 'kasar' tersebut dilakukan di jam2 segini? pastinya jawabannya sendiri sudah gw ketahui=IYA..!!
apa yang bisa gw komentari, hanya sedikit berujar akan keragaman malam di malam kamis yang sungguh asyik, yang walaupun bagi sebagian manusia lainnya mengganggap ini hanyalah biasa saja..
kantor uda sangat sepi, sepertinya gw harus mengangkat badan dan barang2 gw sebelum gw mati keaasyikan memandang Jakarta yang semakin bersinar ini...
Good night SPC, Good Night Gatsu...
Good Night every one, n Good luck...
Wednesday, October 29, 2008
Sunday, October 26, 2008
mari menikah....hahahahahaha.....
seorang karib sempat berujar pada gw dalam salah satu "sesi" chatting via yahoo messanger,"i hate marriege life", Not make me shock n tdk bikin gw bertanya2 juga..!!!
Dalam benak gw n logika gw cuma berujar, di saat lo memutuskan untuk menghabiskan "hari2" lo untuk hidup bersama, memulai segala sesuatunya bersama, menata jenjang waktu panjang kedepan bersama, berarti lo sudah bersiap dengan segala tetek bengek dan konsekuensinya dalam sebuah "rumah pernikahan"
Ga ada hubungan yang sempurna, itupun berlaku dalam hubungan pernikahan, mungkin easy to say bagi gw, karena gw juga belum dan belum juga menyambangi 'pagar sakral' itu.
tapi kesempurnaannya pun kalo boleh gw meneruskan sedikit petuah sok tahu ini adalah tergantung ditingkat mana elu memposisikan pernikahan yang lo anggap sebuah "balai terakhir lo. mungkin acap dari kita terlalu memposisikannya dalam level yang sangat tinggi yang membuat hubungan yang mungkin masih seumur jagung terlalu berat menanggung 'beban' yang dialamatkan oleh kualitas yang ingin lo terapkan dalam rumah tangga lo. banyak hal yang mendukung ketidak sempurnaan itu, sebagian mungkin adalah ketidaksiapan dalam banyak hal (walaupun para orang tua dan sebagin dari kita selalu berujar ketika anaknya sudah masuk 'usia senja' adalah mau siap sampe kapan sih..), ada benarnya juga, tingkat kesiapan dari kita toh juga berbeda2, ada orang yang meyakininya bahwa hal2 yang berbentuk kesiapan bisa terselesaikan, ataupun paling minin sedikit tertutupi bila kita terjun langsung dalam ranah perkawinan itu, namun ada pula yang melakukan persiapan matang dari A sampai Z dan dari segala aspek samapai 100% meski "umur senja" sudah disandang bertahun2.
Semua jawaban kesiapan, semua jawaban kesempurnaan, dan semua jawaban keingintahuan ataupun semua jawaban kualitas hubungan dengan pasangan yang sudah dinikahi ataupun akan dinikahi sudah menjadi pe er tersendiri yang duduk manis di ujung kepala masing2 kita terutama kita para pria.
So, jangan takut menikah, jangan takut dinikahi..!!!
u the best person who really know who u re, what u want n how u will..!!!
Dalam benak gw n logika gw cuma berujar, di saat lo memutuskan untuk menghabiskan "hari2" lo untuk hidup bersama, memulai segala sesuatunya bersama, menata jenjang waktu panjang kedepan bersama, berarti lo sudah bersiap dengan segala tetek bengek dan konsekuensinya dalam sebuah "rumah pernikahan"
Ga ada hubungan yang sempurna, itupun berlaku dalam hubungan pernikahan, mungkin easy to say bagi gw, karena gw juga belum dan belum juga menyambangi 'pagar sakral' itu.
tapi kesempurnaannya pun kalo boleh gw meneruskan sedikit petuah sok tahu ini adalah tergantung ditingkat mana elu memposisikan pernikahan yang lo anggap sebuah "balai terakhir lo. mungkin acap dari kita terlalu memposisikannya dalam level yang sangat tinggi yang membuat hubungan yang mungkin masih seumur jagung terlalu berat menanggung 'beban' yang dialamatkan oleh kualitas yang ingin lo terapkan dalam rumah tangga lo. banyak hal yang mendukung ketidak sempurnaan itu, sebagian mungkin adalah ketidaksiapan dalam banyak hal (walaupun para orang tua dan sebagin dari kita selalu berujar ketika anaknya sudah masuk 'usia senja' adalah mau siap sampe kapan sih..), ada benarnya juga, tingkat kesiapan dari kita toh juga berbeda2, ada orang yang meyakininya bahwa hal2 yang berbentuk kesiapan bisa terselesaikan, ataupun paling minin sedikit tertutupi bila kita terjun langsung dalam ranah perkawinan itu, namun ada pula yang melakukan persiapan matang dari A sampai Z dan dari segala aspek samapai 100% meski "umur senja" sudah disandang bertahun2.
Semua jawaban kesiapan, semua jawaban kesempurnaan, dan semua jawaban keingintahuan ataupun semua jawaban kualitas hubungan dengan pasangan yang sudah dinikahi ataupun akan dinikahi sudah menjadi pe er tersendiri yang duduk manis di ujung kepala masing2 kita terutama kita para pria.
So, jangan takut menikah, jangan takut dinikahi..!!!
u the best person who really know who u re, what u want n how u will..!!!
Senang=Semua Orang, Susah= Nol Orang
Apa yang membuat hidup sebenarnya lebih dari sekedar senang-senang, hura-hura, menghabiskan uang, luntang lantung tanpa tujuan yang jelas???
Sebagian kita beranggapan bahwa itu adalah bagian dari menikmati hidup, sebagian lagi bilang itu hanya kesenangan sesaat, sebagian lagi mengklaim kalo itu hanya ajang penghabisan harta masa muda dan tidak berguna, namun sebagian lagi berujar hanya sekedar memberikan penghargaan kepada diri sendiri dengan membuat senang diri setelah ‘banting tulang’…
Apapun bentuk tanggapan, pernyataan, pujian, makian, sanggahan, kesetujuan ataupun ketidak setujuan dari semuanya tergantung dari sudut mana kita mengamatinya? Dan juga tergantung siapa orang yang memberikan pendapat itu.
Tidak ada yang salah dari sinisme ataupun pro statement dari semua itu, dan tentunya juga tidak ada pembenaran secara eksplisit mengenai semua itu. Yang ada hanyalah kesetaraan kita dalam membuat permukaan kulit masalah kecil ini menjadi sebuah angin lalu yang biarlah lewat begitu saja. Karena tingkat kepuasan, tingkat kesenangan, tingkat kebosanan, ataupun tingkat ‘rasa ingin’ masing-masing kepala dan otak kita sangat variatif dan tidak bisa menjadikannya sebuah penyamarataan.
Yang harus diingat dan digarisbawahi hanyalah, tidak ada orang yang ingin sedih, susah, setiap kepala pasti menginginkan kesenangan dan kenikmatan, even siapa, apa dan bagaimanapun sang orang. Tinggal menginventarisir tingkat kesenangan masing-masing dari kita yang sangat, sangat beragam.
Dan itu semua rumusan matematisnya ada di benak dan otak perbadan kita…!!!
Isn ‘it….!!!
(tolong koreksi kalo gw salah-mengutip salah satu bahasa baku seorang karib ;-)…
Sebagian kita beranggapan bahwa itu adalah bagian dari menikmati hidup, sebagian lagi bilang itu hanya kesenangan sesaat, sebagian lagi mengklaim kalo itu hanya ajang penghabisan harta masa muda dan tidak berguna, namun sebagian lagi berujar hanya sekedar memberikan penghargaan kepada diri sendiri dengan membuat senang diri setelah ‘banting tulang’…
Apapun bentuk tanggapan, pernyataan, pujian, makian, sanggahan, kesetujuan ataupun ketidak setujuan dari semuanya tergantung dari sudut mana kita mengamatinya? Dan juga tergantung siapa orang yang memberikan pendapat itu.
Tidak ada yang salah dari sinisme ataupun pro statement dari semua itu, dan tentunya juga tidak ada pembenaran secara eksplisit mengenai semua itu. Yang ada hanyalah kesetaraan kita dalam membuat permukaan kulit masalah kecil ini menjadi sebuah angin lalu yang biarlah lewat begitu saja. Karena tingkat kepuasan, tingkat kesenangan, tingkat kebosanan, ataupun tingkat ‘rasa ingin’ masing-masing kepala dan otak kita sangat variatif dan tidak bisa menjadikannya sebuah penyamarataan.
Yang harus diingat dan digarisbawahi hanyalah, tidak ada orang yang ingin sedih, susah, setiap kepala pasti menginginkan kesenangan dan kenikmatan, even siapa, apa dan bagaimanapun sang orang. Tinggal menginventarisir tingkat kesenangan masing-masing dari kita yang sangat, sangat beragam.
Dan itu semua rumusan matematisnya ada di benak dan otak perbadan kita…!!!
Isn ‘it….!!!
(tolong koreksi kalo gw salah-mengutip salah satu bahasa baku seorang karib ;-)…
Thursday, October 23, 2008
------
melakukan sesuatu dengan hati memang memiliki kepuasan tersendiri...
melakukan sesuatu dengan tuntutan perintah, prosedur ataupun sistem memang sedikit mengukung zona 'bermain' dan kreativitas kita...
apapun bentuknya kepuasan bathin yang kita bentuk secara 'hati' lebih membuat keadaan apa adanya kita semakin menajdi apa adanya tanpa paksa dan 'cari muka'
melakukan sesuatu dengan tuntutan perintah, prosedur ataupun sistem memang sedikit mengukung zona 'bermain' dan kreativitas kita...
apapun bentuknya kepuasan bathin yang kita bentuk secara 'hati' lebih membuat keadaan apa adanya kita semakin menajdi apa adanya tanpa paksa dan 'cari muka'
Monday, October 20, 2008
samudra pilihan
Apa yang ada di fikiran dan otak masing2 kita ketika waktu yang bersamudra sekarang mengharuskan kita mendayung kapal lebih ke tengah laut, mencapai satu titik pulau terpencil yang mana disanalah kita seharusnya berada, menanam benih hidup dan berencana akan tonggak pohon yang akan tumbuh dan terbangun hanya dengan pupuk buatan tangan kita sendiri dan dengan keringat cucuran badan kita sendiri.
Sebagian dari kita mungkin masih belum tersadar dan masih menikmati mendayung kapal di tengah laut dan masih acap kali bermain2 dengan riak2 air yang kadang masuk ke kapal,di sengaja ataupun tidak disengaja, sebagian kelompok dari kita lagi mungkin masih maju mundur mendayung kapal, ketika pulau terpencil sudah tampak dipelupuk mata entah fikiran apa lagi, mulai memutar arah dayungan dan kembali bercinta dengan ombak laut yang padahal acap kali bergerak menhantam kapal dan penghuninya, ilah dan yang lebih parahnya lagi ( kalau boleh menggunakan kata itu daripada kata naïf; yang terkesan lebih menggurui) adalah sekelompok yang malah bersenang ria mundur dan mengayuh kapal menuju pinggiran pantai, enatah karena ketidak tahanan mereka dengan dengan omabak yang kadang besar dan kadang kadang kecil, sehingga kesempatan untuk menguji ketahanan hidup dan terutama ketahan berkeputusan dilewatkan begitu saja, padahal penggalan hari yang di lalui menuju tengah laut tidaklah mudah, tidaklah nyaman, terbakar oleh sengatan surya, bermandikan dinginnya air hujan dan tersengat oleh hawa malam laut yang sangat, sangat tidak nikmat.
Tapi inllah sebuah pilihan, orang pintar selalu mengumbar istilah bahwa hidup adalah pilihan, termasuk pilihan hidup di tengah samudra, di tengah laut, di tengah danau bahkan ditengah sungai pun, tidak seperti terbangun segar di pagi hari dengan sekumpulan tenaga yang sudah siap kita kuras kembali guna kegiatan2 hidup yang kita sendiri merasa hanya sebagai symbol dalam menjalankan dan mendramatisir jalannya kehidupan kita. Tingal apa yang harus kita siapkan guna mencairkan kebekauan jiwa untuk menyikapi kehidupan bersamudra yang sangat sangat tidak berkemanusiaan, membuat kita sadar bahwa seberapa mewahnya kapal yang kita samudrakan, ataupun seberapa superkah tenaga kita mengarungi juga bukanlah sebuah jamianan pencapaian yang berakhir indah dan memuaskan.
Jawaban penting dan terbesar hanya ada pada fikiran yang diajalankan dengan otak sehat kita dan dibarengi dengan sedikit kepekaan jiwa yang tentunya di gerakkan oleh hati kita yang mungkin masih sangat nista oleh segala kemunafikan, pribadi kita yang sangat tahu siapa dan bagaimana diri kita??
Kalo keputusan bermuara dilaut yang sangat luas tersebut belum kita penuhi dengan sebuah keberanian, atau bisa juga karena kita belum ,mempunyai kesiapan untuk berkeputusan sakral, sebuah awal yang baik kalo harus memulai dengan menyehatkan otak yang akan kita gunakan untuk berfikir lebih dalam nantinya, dan juga mendinginkan jiwa ita dengan guna kenyaman hati dalam menyikapi setiap riak yang masuk ke dalam kapal kita nantinya.
Belum tahu juga apakah paparan ini benar adanya? Tapi inilah sedikit celah yang bisa kita buat menjadi sebuah kenikmatan bercerita dalam tulisan…
"i have to..."
Sebagian dari kita mungkin masih belum tersadar dan masih menikmati mendayung kapal di tengah laut dan masih acap kali bermain2 dengan riak2 air yang kadang masuk ke kapal,di sengaja ataupun tidak disengaja, sebagian kelompok dari kita lagi mungkin masih maju mundur mendayung kapal, ketika pulau terpencil sudah tampak dipelupuk mata entah fikiran apa lagi, mulai memutar arah dayungan dan kembali bercinta dengan ombak laut yang padahal acap kali bergerak menhantam kapal dan penghuninya, ilah dan yang lebih parahnya lagi ( kalau boleh menggunakan kata itu daripada kata naïf; yang terkesan lebih menggurui) adalah sekelompok yang malah bersenang ria mundur dan mengayuh kapal menuju pinggiran pantai, enatah karena ketidak tahanan mereka dengan dengan omabak yang kadang besar dan kadang kadang kecil, sehingga kesempatan untuk menguji ketahanan hidup dan terutama ketahan berkeputusan dilewatkan begitu saja, padahal penggalan hari yang di lalui menuju tengah laut tidaklah mudah, tidaklah nyaman, terbakar oleh sengatan surya, bermandikan dinginnya air hujan dan tersengat oleh hawa malam laut yang sangat, sangat tidak nikmat.
Tapi inllah sebuah pilihan, orang pintar selalu mengumbar istilah bahwa hidup adalah pilihan, termasuk pilihan hidup di tengah samudra, di tengah laut, di tengah danau bahkan ditengah sungai pun, tidak seperti terbangun segar di pagi hari dengan sekumpulan tenaga yang sudah siap kita kuras kembali guna kegiatan2 hidup yang kita sendiri merasa hanya sebagai symbol dalam menjalankan dan mendramatisir jalannya kehidupan kita. Tingal apa yang harus kita siapkan guna mencairkan kebekauan jiwa untuk menyikapi kehidupan bersamudra yang sangat sangat tidak berkemanusiaan, membuat kita sadar bahwa seberapa mewahnya kapal yang kita samudrakan, ataupun seberapa superkah tenaga kita mengarungi juga bukanlah sebuah jamianan pencapaian yang berakhir indah dan memuaskan.
Jawaban penting dan terbesar hanya ada pada fikiran yang diajalankan dengan otak sehat kita dan dibarengi dengan sedikit kepekaan jiwa yang tentunya di gerakkan oleh hati kita yang mungkin masih sangat nista oleh segala kemunafikan, pribadi kita yang sangat tahu siapa dan bagaimana diri kita??
Kalo keputusan bermuara dilaut yang sangat luas tersebut belum kita penuhi dengan sebuah keberanian, atau bisa juga karena kita belum ,mempunyai kesiapan untuk berkeputusan sakral, sebuah awal yang baik kalo harus memulai dengan menyehatkan otak yang akan kita gunakan untuk berfikir lebih dalam nantinya, dan juga mendinginkan jiwa ita dengan guna kenyaman hati dalam menyikapi setiap riak yang masuk ke dalam kapal kita nantinya.
Belum tahu juga apakah paparan ini benar adanya? Tapi inilah sedikit celah yang bisa kita buat menjadi sebuah kenikmatan bercerita dalam tulisan…
"i have to..."
Sunday, October 19, 2008
teh poci kemayoran
Teh poci Kemayoran, itulah sebuah jawaban yang keluar dari mulut salah satu teman baik gw “si buruak”, ketika gw tanya kemana tempat yang enak di sambangi di jam malam menuju pagi di hari sabtu ini…????? Sebenarnya gw agak ragu juga, ko ada tempat minum teh yang buka jam segini..?? karena ketika pertanyaan itu gw ajuin jam Jakarta sedang menunjukkan jam 11an. Ternyata tempat ‘baru’ bagi gw itu emang dibuka di malam hari. Berangkatlah gw dan buruak ditemenin ‘romeo’ merahnya (???) berangin-angin di malam yang ga buta itu………
Rekomendasi tempat minum ini sebenernya sudah di promosikan tmn gw ini jauh2 hari, Cuma karena ada judul “kemayoran” yang diceritakan, sedikit mengurungkan niat jalan gw untuk menyambangi, karena yang terbayang di otak gw adalah tempat yang lumayan jauh kalo di capai dari kosan gw, dan dengan alasan itu juga gw tidak terlalu berniat juga kalo tiap tahunnya Jakarta mengadalan PRJ-nya yang notabene berada di daerah kemayoran.
Jam yang terpampang di sudut kanan hp butut gw 23.26 ketika gw melewati Jalan Garuda-Senen dan tepat di ujung jalan Garuda, temen gw membelokkan’romeo’ nya kearah kanan jalan, dan itu tepat di hook jalan ( berarti ini belom terlalu kemayoran sekali, karena masih masuk ujung senen ko…) Sepenglihatan gw banyak motor2 yang berjejer di parkir, dan di bagian depan jalannya pun berjejer beberapa mobil yang bisalah kalo di hitung pake jari. Kesan pertama yang muncul di otak gw adalah tempat minum teh atau tempat nongkrong yang sangat, sangat membumi, layaknya warung2 pinggir jalan pada umumnya,sangat memasyarakat, dan sangat apa adanya dengan model warung bermaterial dominan kayu yang kelihatannya sudah berumur. Yang tertangkap di bagian depan warung adalah tumpukan gorengan2 yang sudah menggunung, foto gorengan inipun sudah berkurang gunungnya dari pertama gw datang.
Pesanan gw dan si buruak:
1 teko the poci ( bukan karena ngirit kita pesen satu teko kecil itu, tapi dikarenakan teko teh yang terediapun hanya tinggal 1 teko, bisa di banyangkan gimana laku kerasnya warung teh poci ini. ;-)
1 ketan putih dengan lumuran susu untuk si buruak
1 ketan putih tanpa susu dan cukup dilumuri gula pasir, dan itu pasti untuk gw huaaaa…..
Dari pertama memasuki ‘kawasan’ ini sampai memesan, sudah tidak ada tempat kosong yang tertangkap dari pandangan mata sehat gw, tempat bermodel gubug sudah full, bangku2 kayu yang di disusun berjejer di samping warungpun penuh oleh para pecinta teh Jakarta. Kursi2 liar yang di tambahkanpun sudah tidak ada yang bisa gw duduki. Akhirnya gw dan si buruak nekat mengampar dan di alasi sandal duduk di depan toko, tepat berada di samping warung teh pocinya, tapi Tuhan memang selalu sayang dengan umatnya yang sedang berkesusahan, bangku bagian depan gubug sudah ditinggalkan orangnya, jadilah gw bergegas (cape d bahasanya) menuju gubug kayu tersebut, lumayanlah paling ga sedikit agak manusiawilah. Heheheheheheh……………..
Pesenan gw dating, tapi ko ada tambahan gorengan tempe dan pisang goreng di piring kecil yang disuguhkan, usut punya usut dari siburuak yang sudah sering k tempat ini, ternyata ini menu yang memang wajib ada ketika lo memesan ketan, karena gorengan tersebut yang akan dijadikan “lauk” ketika lo makan ketan putihnya. Tapi jujur gw ga berminat untuk mencoba ‘standart’ itu, karena bagi gw gorengan makanan dalam kategori asin dan harus dimakan sendiri, dan ketan berlumur gula adalah makanan dalam kategori manis.jadilah gw mencicipinya dengan ‘ala’ gw.
Rasa tehnya nikmat, tidak mengecewakan, ketannya enak, tempe gorengnya layaknya tempe goreng pada umumnya. Tapi disamping menu makanannya yang khas ada hal yang menggelitik untuk di bahas adalah banyak kecoa yang berlalu lalang, sampai ada yang saying banget nempel di kepala si buruak, kecoanya berarti tahu siapa yang sudah mandi dan siapa yang belum ya bur…hahahahah…..
Dan duit yang di keluarin dari minum dan makannya adalah Rp. 9.000,- (Sembilan Ribu Rupiah), nice price…!!!!isn’it…?????? jadi kekesalan dari kecoa2 yang muncul sedikit terbayarkanlah dengan menu dan harga yang gw dapet. Jadi ada ajakan k the poci rawamangun lagi???? C’ mon…sappppa takut…..!!!!!!
-writed 18 okt 08 pagi jam 01.00-
si anak desa
Hawa dingin sudah menusuk sendi-sendiku, jaketkupun mulai kukatupkan lebih kencang guna menyiasati kesejukan yang teramat ini. Aroma teh dari perkebunan terbesar didunia inipun sudah mulai menghampiri penciumanku, sangat kerinci sekali gumamku. Deretan rumah penduduk yang masih hanya ditemani temaramnya lampu teras masih terasa sangat sepi di pagi buta ini, tepat pukul 3 dini hari aku menyusuri pinggiran kota kelahiranku terindah. Namun kenangan masa kecil dikota tercinta ini cukup membuatku mengharuskan diri untuk pulang tiap tahunnya, terutama dimasa mudik lebaran seperti sekarang ini. Bukan hanya sekedar untuk bersembah sujud dengan beliau-beliau yang menjadi manusia pencinta terbaik diduniaku tapi juga untuk sekedar mengulik kenangan masa kecil yang sangat tidak bisa kulupakan dari ruang tersempit dari pikiranku. Di kota ini aku muncul dan bertumbuh kembang meski aku meninggalkannya lebih dari setengah umurku, tapi keabadian seluk beluk hal yang banyak kutemui disini tak akan pernah lekang oleh apapun juga. Letaknya yang tak jauh dari kawasan gunung kerinci dan danau kerinci membuatnya menjadi kawasan yang cukup banyak di singgahi oleh penikmat wisata dalam maupun luar.
Kerinciku tetaplah menjadi kerinciku..meski tak semurni ketika aku masih lucu-lucunya dulu, mungkin tak selengang ketika aku bersekolah dasar di SD I/III (baca:satu strip tiga ; sampai sekarangpun aku masih tidak habis fikir kenapa nama sekolah dasarku dinamai sekolah dasar satu garis miring yang dalam bahasa Indonesia berarti atau tiga, mungkin juga penggabungan dua sekolah yang aku dengar-dengar dari mulut orang ke orang) tapi apapun dia disanalah aku diajarinya pertama kali menulis dan membaca.
Sampai detik inipun akupun masihlah seorang anak kampung, aku masihlah seorang bocah dusun, aku tetap menjadi penduduk pedalaman yang lekang dan kental oleh adat istiadat daerah setempat yang bukan berasal dari istiadat darah lelehurku sejatinya, namun semakin terbiasa olehnya. Aku menikmatinya, aku menjalaninya, aku mencintainya dan aku berusaha untuk tenggelam dalam kehirukan dan keintimannya yang sangat sakral.
Si anak gunung kerinci inipun masih tetap anak gunung, si anak danau kerinci inipun masihlah anak danau,masih tetap anak kampung, masih sama anak desa, masih selalu anak udik, dan masih sangat menyayangi kota kerinci ini,….
writed:
03.15 wib 27 september 2008
Kerinci masih pulas…..
Kerinciku tetaplah menjadi kerinciku..meski tak semurni ketika aku masih lucu-lucunya dulu, mungkin tak selengang ketika aku bersekolah dasar di SD I/III (baca:satu strip tiga ; sampai sekarangpun aku masih tidak habis fikir kenapa nama sekolah dasarku dinamai sekolah dasar satu garis miring yang dalam bahasa Indonesia berarti atau tiga, mungkin juga penggabungan dua sekolah yang aku dengar-dengar dari mulut orang ke orang) tapi apapun dia disanalah aku diajarinya pertama kali menulis dan membaca.
Sampai detik inipun akupun masihlah seorang anak kampung, aku masihlah seorang bocah dusun, aku tetap menjadi penduduk pedalaman yang lekang dan kental oleh adat istiadat daerah setempat yang bukan berasal dari istiadat darah lelehurku sejatinya, namun semakin terbiasa olehnya. Aku menikmatinya, aku menjalaninya, aku mencintainya dan aku berusaha untuk tenggelam dalam kehirukan dan keintimannya yang sangat sakral.
Si anak gunung kerinci inipun masih tetap anak gunung, si anak danau kerinci inipun masihlah anak danau,masih tetap anak kampung, masih sama anak desa, masih selalu anak udik, dan masih sangat menyayangi kota kerinci ini,….
writed:
03.15 wib 27 september 2008
Kerinci masih pulas…..
Thursday, October 9, 2008
reuni mini
hari ini rencana untuk ktemuan bareng four musketeer, GATOT..!! alias gagal total...
akhirnya gw berkeputusan untuk bertemu salah satu dari mereka, karena cuma hari ini waktu yang memungkinkan untuk bertemu salah satu dari 4 manusia gila ini, berhubung yang bersangkutan akan berangkat k yogya jadi dipaksainlah, apalagi di iming2in ma ceritanya yang bawa teman cewe lucu..hahahaha...interest enough..!!!
Bertemu penganten baru dirumah kontrakan baru tertunda, yang salah satunya karena 'sang kabayan' tidak dapat hadir juga karena sedikit terganggu kesehatannya, tapi mumpung masih di Jakarta jadi kemungkinan untuk ketemu masih terbuka lebar,jadilah skrang gw berkutat di depan komputer java net cafe pasar festival sambil nungguin salah satu manusia baik yang gw kenal..(cuihhh..ge er lagi lo ntar..) sambil d temenin black coffee panassss (gw mintanya ga sepanas ini, heeeee...) sama sebatang sampoerna mild di mulut...menyebutkan dua brand ini lumayanlah untuk promosi gratis mereka, tapi kalo tidak di ijinkan dari lubuk paling dalam, maaf ya pak bu..!!
'gw d cavana"..tulisan sms yang masuk dari no 0816995..., wah gw belom 1/2 jam disini, sepertinya emang harus cabut dulu,
c u semua..caooo...
akhirnya gw berkeputusan untuk bertemu salah satu dari mereka, karena cuma hari ini waktu yang memungkinkan untuk bertemu salah satu dari 4 manusia gila ini, berhubung yang bersangkutan akan berangkat k yogya jadi dipaksainlah, apalagi di iming2in ma ceritanya yang bawa teman cewe lucu..hahahaha...interest enough..!!!
Bertemu penganten baru dirumah kontrakan baru tertunda, yang salah satunya karena 'sang kabayan' tidak dapat hadir juga karena sedikit terganggu kesehatannya, tapi mumpung masih di Jakarta jadi kemungkinan untuk ketemu masih terbuka lebar,jadilah skrang gw berkutat di depan komputer java net cafe pasar festival sambil nungguin salah satu manusia baik yang gw kenal..(cuihhh..ge er lagi lo ntar..) sambil d temenin black coffee panassss (gw mintanya ga sepanas ini, heeeee...) sama sebatang sampoerna mild di mulut...menyebutkan dua brand ini lumayanlah untuk promosi gratis mereka, tapi kalo tidak di ijinkan dari lubuk paling dalam, maaf ya pak bu..!!
'gw d cavana"..tulisan sms yang masuk dari no 0816995..., wah gw belom 1/2 jam disini, sepertinya emang harus cabut dulu,
c u semua..caooo...
Subscribe to:
Posts (Atom)