Apa yang ada di fikiran dan otak masing2 kita ketika waktu yang bersamudra sekarang mengharuskan kita mendayung kapal lebih ke tengah laut, mencapai satu titik pulau terpencil yang mana disanalah kita seharusnya berada, menanam benih hidup dan berencana akan tonggak pohon yang akan tumbuh dan terbangun hanya dengan pupuk buatan tangan kita sendiri dan dengan keringat cucuran badan kita sendiri.
Sebagian dari kita mungkin masih belum tersadar dan masih menikmati mendayung kapal di tengah laut dan masih acap kali bermain2 dengan riak2 air yang kadang masuk ke kapal,di sengaja ataupun tidak disengaja, sebagian kelompok dari kita lagi mungkin masih maju mundur mendayung kapal, ketika pulau terpencil sudah tampak dipelupuk mata entah fikiran apa lagi, mulai memutar arah dayungan dan kembali bercinta dengan ombak laut yang padahal acap kali bergerak menhantam kapal dan penghuninya, ilah dan yang lebih parahnya lagi ( kalau boleh menggunakan kata itu daripada kata naïf; yang terkesan lebih menggurui) adalah sekelompok yang malah bersenang ria mundur dan mengayuh kapal menuju pinggiran pantai, enatah karena ketidak tahanan mereka dengan dengan omabak yang kadang besar dan kadang kadang kecil, sehingga kesempatan untuk menguji ketahanan hidup dan terutama ketahan berkeputusan dilewatkan begitu saja, padahal penggalan hari yang di lalui menuju tengah laut tidaklah mudah, tidaklah nyaman, terbakar oleh sengatan surya, bermandikan dinginnya air hujan dan tersengat oleh hawa malam laut yang sangat, sangat tidak nikmat.
Tapi inllah sebuah pilihan, orang pintar selalu mengumbar istilah bahwa hidup adalah pilihan, termasuk pilihan hidup di tengah samudra, di tengah laut, di tengah danau bahkan ditengah sungai pun, tidak seperti terbangun segar di pagi hari dengan sekumpulan tenaga yang sudah siap kita kuras kembali guna kegiatan2 hidup yang kita sendiri merasa hanya sebagai symbol dalam menjalankan dan mendramatisir jalannya kehidupan kita. Tingal apa yang harus kita siapkan guna mencairkan kebekauan jiwa untuk menyikapi kehidupan bersamudra yang sangat sangat tidak berkemanusiaan, membuat kita sadar bahwa seberapa mewahnya kapal yang kita samudrakan, ataupun seberapa superkah tenaga kita mengarungi juga bukanlah sebuah jamianan pencapaian yang berakhir indah dan memuaskan.
Jawaban penting dan terbesar hanya ada pada fikiran yang diajalankan dengan otak sehat kita dan dibarengi dengan sedikit kepekaan jiwa yang tentunya di gerakkan oleh hati kita yang mungkin masih sangat nista oleh segala kemunafikan, pribadi kita yang sangat tahu siapa dan bagaimana diri kita??
Kalo keputusan bermuara dilaut yang sangat luas tersebut belum kita penuhi dengan sebuah keberanian, atau bisa juga karena kita belum ,mempunyai kesiapan untuk berkeputusan sakral, sebuah awal yang baik kalo harus memulai dengan menyehatkan otak yang akan kita gunakan untuk berfikir lebih dalam nantinya, dan juga mendinginkan jiwa ita dengan guna kenyaman hati dalam menyikapi setiap riak yang masuk ke dalam kapal kita nantinya.
Belum tahu juga apakah paparan ini benar adanya? Tapi inilah sedikit celah yang bisa kita buat menjadi sebuah kenikmatan bercerita dalam tulisan…
"i have to..."
No comments:
Post a Comment