Sunday, October 19, 2008

si anak desa

Hawa dingin sudah menusuk sendi-sendiku, jaketkupun mulai kukatupkan lebih kencang guna menyiasati kesejukan yang teramat ini. Aroma teh dari perkebunan terbesar didunia inipun sudah mulai menghampiri penciumanku, sangat kerinci sekali gumamku. Deretan rumah penduduk yang masih hanya ditemani temaramnya lampu teras masih terasa sangat sepi di pagi buta ini, tepat pukul 3 dini hari aku menyusuri pinggiran kota kelahiranku terindah. Namun kenangan masa kecil dikota tercinta ini cukup membuatku mengharuskan diri untuk pulang tiap tahunnya, terutama dimasa mudik lebaran seperti sekarang ini. Bukan hanya sekedar untuk bersembah sujud dengan beliau-beliau yang menjadi manusia pencinta terbaik diduniaku tapi juga untuk sekedar mengulik kenangan masa kecil yang sangat tidak bisa kulupakan dari ruang tersempit dari pikiranku. Di kota ini aku muncul dan bertumbuh kembang meski aku meninggalkannya lebih dari setengah umurku, tapi keabadian seluk beluk hal yang banyak kutemui disini tak akan pernah lekang oleh apapun juga. Letaknya yang tak jauh dari kawasan gunung kerinci dan danau kerinci membuatnya menjadi kawasan yang cukup banyak di singgahi oleh penikmat wisata dalam maupun luar.
Kerinciku tetaplah menjadi kerinciku..meski tak semurni ketika aku masih lucu-lucunya dulu, mungkin tak selengang ketika aku bersekolah dasar di SD I/III (baca:satu strip tiga ; sampai sekarangpun aku masih tidak habis fikir kenapa nama sekolah dasarku dinamai sekolah dasar satu garis miring yang dalam bahasa Indonesia berarti atau tiga, mungkin juga penggabungan dua sekolah yang aku dengar-dengar dari mulut orang ke orang) tapi apapun dia disanalah aku diajarinya pertama kali menulis dan membaca.
Sampai detik inipun akupun masihlah seorang anak kampung, aku masihlah seorang bocah dusun, aku tetap menjadi penduduk pedalaman yang lekang dan kental oleh adat istiadat daerah setempat yang bukan berasal dari istiadat darah lelehurku sejatinya, namun semakin terbiasa olehnya. Aku menikmatinya, aku menjalaninya, aku mencintainya dan aku berusaha untuk tenggelam dalam kehirukan dan keintimannya yang sangat sakral.
Si anak gunung kerinci inipun masih tetap anak gunung, si anak danau kerinci inipun masihlah anak danau,masih tetap anak kampung, masih sama anak desa, masih selalu anak udik, dan masih sangat menyayangi kota kerinci ini,….

writed:
03.15 wib 27 september 2008
Kerinci masih pulas…..

No comments: