banyak pendapat yang menegaskan kalo mensyukuri sesuatu, entah itu keadaaan dan sebagainya adalah dengan mengikhlaskan, merelakan, tepatnya menerima yang yang ada dan didapat.
is it correct?
apa yang disebut sebenarnya dengan bersyukur secara definitif??
apakah 'cukup' dengan hanya menerima keadaan apa adanya?? atau ada filosofi2 lain yang membuatnya sedikit meluas ke dalam arti yang sangan global, wa ndak tau..???
secara pribadi mungkin tingkat kebersyukuran masing2 kepala sangat bervariasi, lha wong isi kepala dengan tingkat IQ yang juga berbeda2, dan sebagian juga pasti memandangnya dengan kacamata yang berbeda pula pastinya.
memang agak susah mengklaim diri secara pribadi bersyukur, toh di waktu yang lainnya kata syukur yang sering kita tamengkan untuk sedikit memagari ketidakpuasan diri selalu terpatahkan juga dengan kata: ' ko gini ya," atau "cuma sgini ya,".
kata2 yang bersifat 'menggugah' sisi kebersyukuran tersebut sebenarnya sudah menggambarkan ketidak bersyukuran diri, meski itu acap keluar ketika kita dihadapkan pada satu kondisi yang yang secara emosional sedikit goyah,...
uang banyak, karir bagus, keluarga bahagia,dan lainnya...
indikasi yang mana yang membuat kita tak mengeluh macam2 dengan apa yang kita terima??, sebagian dari kita pasti sangat banyak yang sudah menerima diri dan kehidupannya dengan apa adanya? menjalaninya dengan penuh suka cita dan sangat2 nrimo...? tapi apakah sebagian dari kita menerima keadaaan tersebut???
semua jawabannya ada di hati dan kepala masing2...
kita per-orang yang menjadi "guru" dan "pemutus" di level mana kita menempatkan kebersyukuran tersebut, semoga tidak ada yang kebablasan menempatkannya terlalu tinggi, karena kita masing2 yang sangat mengerti diri, hidup dan kehidupan kita..!!!
mari bersukur....!!!
No comments:
Post a Comment